Halo Rekan Dosen! Nah, kali ini mari kita mengobrol santai tentang satu skill yang sering kali bikin maju-mundur tapi perannya super penting di dunia akademik: Bahasa Inggris.
Dulu, mungkin ada anggapan kalau bahasa Inggris itu cuma pelengkap, terutama buat kita yang tidak mengajar di jurusan sastra atau kelas internasional. Tapi di era world class university seperti sekarang, jago bahasa Inggris itu sudah jadi kebutuhan mutlak, bukan lagi sekadar opsi. Kenapa bisa begitu?
Mengapa Dosen Zaman Now Wajib Kuasai Bahasa Inggris?
Dunia akademis bergerak sangat cepat, dan bahasa Inggris adalah jembatan utamanya. Ini beberapa alasan kuatnya:
Akses Referensi Ilmiah Tanpa Batas: Jurnal internasional bereputasi (seperti Scopus atau ScienceDirect) sebagian besar disajikan dalam bahasa Inggris. Mengandalkan literatur lokal saja tentu akan membuat materi kuliah kita jadi kurang update.
Menembus Jurnal Internasional: Salah satu syarat kenaikan jabatan fungsional (Jafung) yang tinggi adalah mempublikasikan penelitian di jurnal internasional. Di sini, kemampuan menulis artikel ilmiah (academic writing) dalam bahasa Inggris sangat diuji.
Peluang Kolaborasi Global: Mau ikut konferensi internasional, dapat hibah riset (research grant) dari luar negeri, atau visiting professor? Semua pintu itu baru terbuka kalau kita bisa berkomunikasi dengan baik.
TOEFL: Tiket Emas Karier Akademik Anda
Berbicara soal kemampuan bahasa Inggris di ranah dosen, kita tidak bisa lepas dari yang namanya TOEFL (Test of English as a Foreign Language). Tes ini bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan bukti validasi kemampuan bahasa kita yang diakui secara hukum akademik.
Ada beberapa momen krusial dalam karier dosen yang mengharuskan kita punya skor TOEFL yang mumpuni:
1. Syarat Sertifikasi Dosen (SERDOS)
Untuk bisa lulus Serdos, salah satu komponen yang dinilai adalah Kemampuan Bahasa Inggris (KBI). Memiliki skor TOEFL (atau tes setara yang diakui DIKTI) dengan nilai di atas rata-rata akan sangat mengamankan posisi Anda.
2. Berburu Beasiswa S3 (Doktoral)
Bagi Rekan Dosen yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S3, baik di dalam maupun luar negeri, skor TOEFL sering kali jadi syarat mutlak di tahap awal seleksi berkas. Kampus tidak mau kita keteteran saat harus melahap ratusan disertasiberbahasa Inggris nanti.
Kesimpulan: Jangan Menunggu Butuh baru Belajar
Belajar bahasa Inggris atau bersiap menghadapi tes TOEFL memang butuh waktu dan konsistensi. Namun, anggaplah ini sebagai investasi jangka panjang demi karier akademik yang cemerlang. Rekan-rekan dosen juga bisa berlatih secara mandiri melalui kuis dan soal latihan TOEFL yang banyak tersebar di berbagai platform website dan media sosial. Jadi, mumpung jadwal mengajar semester ini masih bisa dikompromikan, yuk mulai luangkan waktu 15–30 menit sehari untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris kita!
Bagaimana dengan Anda? Berapa target skor TOEFL yang ingin Rekan Dosen capai tahun ini? Atau punya tips belajar TOEFL yang praktis di sela-sela kesibukan mengajar? Tulis pengalaman Anda di kolom komentar, ya!
0 Comments